agungprasetyo blog's

It's about technology and life experience

Penelitian Ilmiah

Allah SWT menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Dan untuk dapat melaksanakan tugas pengabdian ini, Allah tidak membiarkan manusia tanpa bekal. Kelengkapan akal diberikan agar manusia bisa memahami semua petunjuk dan ciptaan-Nya. Berbekal akal, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengadakan penelitian ilmah agar mampu memahami berbagai masalah kehidupan dan mencari solusinya.

Berkat ilmu pengetahuan, manusia bisa mengubah lingkungan alam (natural environment) menjadi lingkungan budaya (cultural environment). Misalnya, manusia dapat mengubah bambu yang semula tidak berharga menjadi kursi mewah dengan harga tinggi yang bisa dipajang di rumah-rumah mereka. Barang-barang bekas pun juga bisa didaur ulang menjadi barang yang bernilai tinggi.

Islam dan Sains

Dalam upaya merumuskan sebuah hubungan komprehensif antara Islam dan sains, pertama-tama kita harus mengkonsepkan Islam sebagai ‘din‘, dan bukan sebagai ‘religion‘. Karena hampir dalam semua kamus, religion didefinisikan secara sempit, sebagai sesuatu yang bersifat gaib, sihir, ritual, dogma, dan lembaga.

Hal ini tidak sesuai dengan esensi Islam sebagai agama, bukan sekedar suatu kumpulan aturan hukum. Dan Islam juga tak terbatas pada masalah ritual, tapi juga meliputi semua aspek kehidupan.

Menurut Hanafi (2000:1), Islam adalah ilmu tentang etika, kemanusiaan dan sosial, dan ideologi. Islam merupakan gambaran manusia dalam suatu masyarakat. Ia adalah kebutuhan utamanya, komitmen moral, dan tindakan sosialnya. Islam juga dipandang sebagai sistem ide yang berasal dari pengalaman sejarah yang panjang, yaitu melalui turunnya wahyu kepada Rasulullah untuk umat manusia.

Maka tak dapat diragukan lagi bahwa Islam adalah agama akal, dan pada saat bersamaan sebagai agama hati nurani. Melalui al-Qur’an, Islam mengajak umatnya untuk mendayagunakan akal pikiran, memperoleh petunjuk dengan berkreativitas dan kerja keras, sehingga hidup menjadi lebih bermakna.

Jika akal yang telah diberikan tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, hidup manusia akan  berjalan seolah tanpa kekuatan dan pegangan. Itu sebabnya, karena berbekal akal, manusia diangkat derajatnya oleh Allah sebagai mahkluk terbaik yang pernah diciptakan.

Menurut al-Ghazali, akal merupakan karunia Allah yang luar biasa. Sebab meski dengan keterbatasan yang ada, akal merupakan sumber ma’rifat (pengetahuan). Karena akal pula, seorang muslim dapat menerima kebenaran Islam kemudian membuat kesimpulan dari kebenaran yang ia amati berdasarkan hati nurani.

Demikian pentingnya fungsi akal bagi kehidupan manusia, hingga Allah menyebut orang yang tidak memanfaatkan akalnya sebagai al-An’am, atau binatang ternak.

Pertanyaan kemudian bagaimana supaya akal dapat tumbuh dan berkembang? Pintu utamanya adalah pendidikan. Karena itu, bagi orang Islam belajar dan menuntut ilmu merupakan kewajiban yang mesti ditunaikan.

Dengan demikian, berislam pada dasarnya juga berilmu pengetahuan. Ilmu yang dimaksudkan tak terbatas pada ilmu-ilmu agama, tapi juga mencakup berbagai ilmu pengetahuan yang membawa maslahat bagi manusia (QS. Qaf: 5-10, al-Thariq: 5, al-Ghasyiah: 17-20).

Semua firman Allah dalam ayat-ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Islam memerintahkan penganutnya untuk belajar dan memikirkan apa yang ada di sekitar mereka; langit, hujan, pegunungan, lautan, air, tumbuhan, bintang, kelahiran, kematian, dan untaian geografis bumi ini.

Hanya melalui ilmu pengetahuan dan penyelelidikan ilmiah, fenomena tersebut dapat dipelajari secara sistematis dan dapat dijelaskan kepada semua orang. Obervasi ilmiah akan membuat Muslim sadar akan semua misteri di balik ciptaan Allah, dan akhirnya bisa mengagumi-Nya sebagai Zat yang Abadi dan Maha Kuasa.

Penelitian Ilmiah

Sebelum menjelaskan lebih lanjut tentang penelitian ilmiah, perlu dipahami terlebih dahulu definisi ‘ilm‘ (knowledge) dalam Islam. Istilah ‘ilm‘, sejatinya adalah ilmu pengetahuan wahyu atau yang berkaitan dengan wahyu. Meski kemudian dipakai untuk pengertian yang lebih luas dan mencakup pengetahuan manusia.

Dalam ilm terkandung tiga komponen yang tak dapat dipisahkan: ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologis meliputi dunia empiris dan non-empiris. Epistemologi menggunakan pengamatan, logika dan pendekatan wahyu. Sementara aksiologi digunakan untuk meningkatkan pengetahuan manusia tentang Tuhan, membangun peradaban Islam, dan memecahkan berbagai masalah.

Dengan demikian, penggunaan perspektif Islam dalam penelitian ilmiah mempunyai dua fungsi utama: Sebagai pendorong proses integrasi penelitian akademik menjadi paradigma penelitian Islam; dan memberi kerangka acuan terhadap semua masyarakat Muslim dalam melakukan penelitian ilmiah.

Disamping itu, ada tiga nilai dasar yang secara khusus harus dijunjung tinggi oleh setiap akademisi Muslim dalam melakukan penelitian ilmiah. Yaitu Iman kepada Allah, menjunjung kebenaran, dan integrasi. Nilai-nilai ini didukung oleh tambahan tiga nilai dasar lainnya yang berlaku umum dalam penelitian ilmiah: kejujuran, transparansi, dan kemitraan profesional.

Terdapat perbedaan mendasar antara metode penelitian Islam dan sekuler. Dalam penelitian sekuler, segala sesuatu didasarkan pada objek materialisme yang terbatas hanya pada sesuatu yang tampak. Sementara metode penelitian Islam didasarkan pada wahyu Allah.

Penelitian ilmiah dalam Islam tak hanya mencakup fakta-fakta empiris, realitas sosial, dan fenomena kemanusiaan, tapi juga terkait masalah ketuhanan. Fakta-fakta empiris dapat didekati dengan “paradigma positivitis”, realitas sosial dengan “paradigma positivitis dan interpretatif”, fenomena kemanusiaan dengan “paradigma interpretif dan kritis”, sementara masalah ketuhanan dapat didekati “paradigma kenabian”.

Paradigma positivitis memandang ilmu-ilmu kemanusiaan dan sosial sebagai sebuah metode terorganisir untuk menggabungkan logika deduktif dengan pengamatan empiris terhadap perilaku manusia dalam rangka menemukan dan mengkonfirmasi serangkaian hukum kausual probabilistik yang dapat digunakan untuk memprediksi pola umum dari aktivitas manusia.

Sedangkan pendekatan interpretatif merupakan analisis sistematis terhadap tindakan sosial melalui pengamatan di lapangan untuk memperoleh suatu pemahaman dan interpretasi tentang bagaimana orang menciptakan dan mempertahankan dunia sosial mereka.

Fokus dari paradigma interpretatif bukan pada “mengungkap realitas” tapi pada peningkatan pemahaman berdasarkan rasa subyektifitas interpretasi orang (peneliti dan yang diteliti).

Sementara paradigma kritis memandang ilmu pengetahuan manusia sebagai proses penelitian kritis yang melampaui ilusi permukaan untuk mengungkap struktur nyata di dunia material dalam rangka membantu masyarakat mengubah kondisi dan membangun dunia yang lebih baik bagi diri mereka sendiri.

Seorang peneliti kritis memulai penelitian dengan melihat konteks sosial dan historis yang lebih besar. Fokus dari perspektif kritis adalah realitas penderitaan dan penindasan yang membutuhkan penjelasan dan perubahan  sosial. Dalam humanisme radikal, misalnya, fokus utama penelitian adalah “kesadaran manusia” bahwa manusia menciptakan makna, bukan pada “struktur”.

Sebagaimana disebutkan  di atas, Islam bukan hanya sebuah agama, tapi juga sebagai tatanan dan perilaku sosial. Islam mencakup semua ranah kehidupan, termasuk ilmu. Dan proyek besar Islam, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an, adalah untuk membentuk sebuah tatanan sosial yang layak di bumi, yang berbasis keadilan dan etika.

Dalam filosofi dasar penelitian menurut Islam , dapat ditegaskan bahwa para sarjana Muslim harus mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan filsafat Islam. Konsep ‘ilm (pengetahuan) harus didefinisikan sebagai seluruh bidang akademik secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis.

Dengan demikian dapat ditemukan empat macam bentuk penelitian yang layak untuk diterapkan Perguruan Tinggi Islam. Yaitu: penelitian empiris, studi sastra, studi berorientasi praktis, serta penelitian dan pengembangan.

Dalam melakukan penelitian empiris, seorang peneliti Muslim dapat mengadopsi metodologi positivitis, interpretif dan kritis. Dalam melakukan studi sastra, peneliti Muslim dapat mengadopsi metodologi tekstual, co-tekstual, kontekstual, dan intertekstual.

Dalam studi berorientasi praktis, peneliti Muslim dapat mengadopsi metodologi  penelitian tindakan, penelitian evaluasi dan penelitian kebijakan. Sedangkan dalam penelitian dan pengembangan, seorang peneliti Muslim dapat mengembangkan prototipe hard-technology, atau prosedur soft-technology.

Dari berbagai bentuk penelitian ini, semuanya harus didedikasikan untuk meningkatkan pengetahuan manusia tentang Allah, membangun masyarakat Islam, dan memecahkan berbagai masalah praktis yang di hadapi umat manusia.

Prof Dr H Mudjia Rahardjo Msi
Wakil Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang

Disadur dari makalah yang disampaikan dalam Konferensi Internasional Liga Universitas Islam di ISID Gontor, 9-11 Januari 2011

Majalah Gontor, Edisi 10 Tahun VIII Februari 2011

Previous

Yahoo! Safely Mengeluarkan Panduan Internet Sehat

Next

Free Ebook Tentang “Google SEO Starter Guide”

2 Comments

  1. Irawan

    Wah, penjelasannya detil dan panjang. meski agak lama bacanya, tapi kontennya bagus mas.

  2. Rafiii

    Penjelasannya dikemas dengan sangat baik, memuat semua yang perlu diketahui, artikel yang sangat informatif dan bermanfaat….terimakasih banyak, artikel ini sangat membantu saya, sukses selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by Lovecraft & Theme by Anders Norén

Policy Privacy | Disclaimer