agungprasetyo blog's

It's about technology and life experience

Besarnya Cinta Rasulullah S.A.W

Tadi siang ketika melaksanakan Sholat Jum’at, saya mengambil selebaran/buletin yang biasanya memang khusus diperuntukkan untuk Sholat Jum’at. Selebaran/buletin ini biasanya memang dibaca ketika sang khotib tidak sedang berkutbah.

Kali ini, selebaran/buletin ini berasal dari “Buletin Dakwah Al I’tibar“, Edisi 06/XX. Judul buletin kali ini adalah Besarnya Cinta Rasulullah S.A.W.

Ketika saya membaca buletin ini, terlihat bagaimana sang penulis menggambarkan kecintaan Nabi Muhammad kepada umatnya, dan saya merasa tulisan ini sangat bagus untuk saya sharing. Saya tahu, mungkin sudah banyak buku atau artikel yang menceritakan saat-saat terakhir Rasulullah S.A.W, tetapi tidak ada salahnya jika saya menuliskan kembali cerita tersebut di blog saya ini.##

Suatu pagi, Rasulullah S.A.W dengan suara terbata-bata memberikan sebuah petuah, “Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur’an. Barangsiapa mencintai sunnahku berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan bersama-sama masuk surga bersama aku.”

Khutbah singkat ini diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu per satu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca. Umar, dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Utsman bin Affan menghela napas panjang. Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. “Rasulullah akan meninggalkan kita semua,” desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia.

Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tetapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?”, tanyanya. Tetapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk. “Maafkanlah, ayahku sedang demam, ” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah aku ayah, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” sabda Rasulullah. Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tetapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan menghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?”, tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tetapi hal itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasih umatku kelak?”. “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya,” kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik, tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini”, lirih Rasulullah mengaduh.

Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?”, tanya Rasulullah pada malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku”. Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanukum (peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah diantaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, para sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?“. Dan pupuslah kembang hidup manusia mulia itu.

Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?. Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaiki.

Wallahu A’alam Bish Showab.

Al Faqir Ilallah

Previous

Sesuatu Yang Baru Di Tahun 2011

Next

Lemari Penuh? Simpan Saja Data Di Awan

1 Comment

  1. Asslkum. makasih mas artikelnya. sekalian izin copy gambarnya ya. syukron.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Powered by Lovecraft & Theme by Anders Norén

Policy Privacy | Disclaimer